Minggu, 22 Januari 2017

Taufiq Ismail Pernah Melihat Bendera Merah Putih Bertuliskan Syahadat Saat Kecil, Ketika Pejuang Muslim Melawan Penjajah Kristen Teroris Belanda Untuk Merdekakan Indonesia

PRIBUMI.WIN, JAKARTA - Kasus bendera merah putih bertuliskan dua kalimat syahadat saat Aksi Bela Ulama, hingga berujung pada penangkapan Nurul Fahmi, yang membawa bendera, ramai diperbincangkan.

Dari berbagai tulisan yang beredar, pada dasarnya tulisan dua kalimat pada bendera merah putih disebut-sebut pernah ada di zaman perjuangan kemerdekaan. Diantaranya dalam bentuk pin yang digunakan laskar Hizbullan dan Sabilillah, di mana bukti pin tersebut diduga berada di sebuah museum di Belanda.

Saat ditanyakan kepada sastrawan Taufik Ismail, ia tak mau berkomentar banyak terkait hal itu. Karena budayawan Muslim itu mengaku tak mengingatnya dengan baik.

“Saya sudah lupa-lupa ingat, jadi perlu meneliti lebih dahulu,” kata Taufiq Ismail saat menjadi pembicara dalam Majelis Taqarrub Ilallah Pembaca Suara Islam (MTI PSI), di Masjid Baiturrahan, Jl. Dr. Saharjo No. 100 Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan, Ahad (22/1/2017).


Ia tak menampik itu merupakan gambar bentuk pin bendera yang mirip digunakan oleh Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Oleh sebab itu, Taufiq meminta kepada berbagai pihak yang berkompeten terkait sejarah perjuangan bangsa Indonesia perlu untuk meneliti.

“Ini (bendera) Hizbullah dan Sabilillah pada zaman revolusi. Fakta-fakta seperti ini perlu dikumpulkan terlebih dahulu untuk secara lengkap nanti disampaikan pada masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, Taufiq juga pernah melihatnya di masa kecilnya dulu. Namun sayangnya hal itu tidak terekam secara dokumentatif.

“Memang pada waktu masa saya kanak-kanak dulu, zaman revolusi memang pernah melihat ini tapi itu tidak terekam secara dokumentatif, sehingga saya tidak bisa menjawab pada saat sekarang ini,” tutupnya.(pmc)
SUMBER BERITA DARI POJOKSATU.ID
Link Banner
Loading...


loading...

Jelang Pemberontakan PKI & Awal Mula Penjajahan Belanda Di Indonesia, Ulama Dipenjara dan Umat Muslim Yang Kontra & Aktivis Ditangkapi dengan Tuduhan Subversif, Makar, Teroris, & Pemberontak

PRIBUMI.WIN, JAKARTA -  Saksi sejarah, Taufiq Ismail menceritakan situasi sekitar tahun 1960an jelang pemberontakan PKI yang ketiga kalinya.

Ia mengungkapkan, para pemimpin Umat Islam kala itu difitnah, hingga dijebloskan ke penjara oleh rezim Orde Lama.

“Pertama sekali, pemimpin-pemimpin Islam difitnah. Pemimpin-peminpin Islam diusahakan agar ditahan, dimasukkan ke dalam tahanan dengan macam-macam cara,” kata Taufiq Ismail saat menjadi pembicara dalam Majelis Taqarrub Ilallah Pembaca Suara Islam (MTI PSI), di Masjid Baiturrahan, Jl. Dr. Saharjo No. 100 Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan, Ahad (22/1/2017).

Para ulama dan tokoh Islam terkemuka harus mendekam di balik terali besi tanpa diadili dan dibuktikan kesalahan mereka.
“Bapak Muhammad Natsir, Syafrudin Prawiranegara, Buya HAMKA, Isa Anshary dan seterusnya, mereka masuk ke dalam tahanan, sampai kudeta berlangsung mereka tidak pernah diadili,” ujarnya.

Berbagai upaya kriminalisasi dengan mencari-cari kesalahan, mereka tega menjerat ulama agar masuk penjara. Menurut Taufiq Ismail, hal itu sama seperti kondisi saat ini.

“Ada penangkapan-penangkapan para pemimpin umat yang dibuat sedemikian rupa supaya umat itu merasa ‘aduh pimpinan kita masuk penjara’ macam-macam alasannya. Seperti juga sekarang, macam-macam alasan, kemudian dicari-cari, digali-gali,” ungkapnya.

Bahkan, termasuk upaya teror dengan tuduhan makar dan sejenisnya pun dilakukan. Taufiq Ismail menceritakan di Pondok Pesantren Al-Jauhar di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kediri, pada 13 Januari 1965, PII melakukan pelatihan. Pada waktu istirahat, Pemuda Rakyat dan PKI, masuk menyerbu masjid, lalu para pelajar PII itu dibawa ke luar masjid, Al-Qur’an yang ada di dalam masjid diinjak-injak, mereka menyeret pelajar PII dengan berteriak-teriak menghina Islam, menghina Rasulullah.

“Yang mereka tuduh PII ini melakukan tindakan subversif, melawan pemerintah, kemudian dibawa ke kepolisian supaya ditahan,” tuturnya.

Puncaknya, kata Taufiq di Jawa Timur, ada masjid yang dibakar. Kemudian buku-buku yang dianggap anti pemerintah itu dilarang.(pmc)
SUMBER BERITA DARI POJOKSATU.ID
Link Banner
Loading...


loading...

Kondisi Saat ini Mirip 1965, Doa Taufiq Ismail: Ya Allah, Selamatkan dari Bencana

PRIBUMI.WIN, JAKARTA - Budayawan Taufiq Ismail menyatakan kondisi Indonesia saat ini mirip dengan situasi jelang G-30 S/PKI tahun 1965.

Ia sangat khawatir, bila itu benar-benar terjadi. Sebab dampaknya akan sangat berbahaya terhadap keutuhan bangsa.

“Ini pengulangan sejarah lagi, ini yang terjadi pada saat ini. Cuma kalau dulu cengkeramannya politiknya kuat sekali, kekuasaan itu mencengkeram dan umat Islam, pemimpin-pemimpinnya dihabisi, pada saat ini hal itu diulang lagi,”  kata Taufiq Ismail saat menjadi pembicara dalam Majelis Taqarrub Ilallah Pembaca Suara Islam (MTI PSI), di Masjid Baiturrahan, Jl. Dr. Saharjo No. 100 Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan, Ahad (22/1/2017).

Apalagi, saat ini disinyalir kekuatan besar itu berasal dari kucuran dana para taipan, yang ngotot agar kalangan mereka menjadi pemimpin di Ibu Kota Jakarta.

“Yang sekarang yang melakukan ini kekuatan uangnya luar biasa, sogokan. Karena di belakang ini ada taipan-taipan yang menyogok supaya si penghina Al-Qur’an ini -yang dia kepeleset dan kepelesetnya habis-habisan, minta maaf berkali-kali tapi sudah ketahuan aslinya- ini yang akan mereka ajukan lagi menjadi pimpinan di Jakarta. Ini tidak boleh terjadi,” ungkapnya.

Merasa prihatin dengan situasi dan kondisi bangsa ini, Taufiq Ismail yang pernah menjadi saksi sejarah keganasan PKI tahun 1965, memanjatkan doa dengan khusyu’.

“Ya Allah, Rabbana, Rabbana… ini adalah satu perasaan dari seseorang yang pernah mengalami 50 tahun yang lalu dan melihat sekarang, Ya Allah, kok mirip sekali keadaannya, mirip, mirip. Kok sepertinya sejarah itu akan diulang kembali. Mudah-mudahan kita diselamatkan Allah dari bencana ini,” tutupnya.(pmc)
SUMBER BERITA DARI POJOKSATU.ID
Link Banner
Loading...


loading...

Inilah Kunci Bagi Kemajuan Koperasi Syariah 212

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Koperasi Syariah 212 dinilai memiliki prospek yang bagus karena lahir dari idealisme dan spirit 212. Peneliti Ekonomi Syariah menyarankan agar Koperasi Syariah 212 tetap mengikuti kaidah hukum organisasi dan dikelola secara profesional.

"Organisasi hukumnya harus mengikuti kaidah organisasi agar bisa bertahan jangka panjang juga tumbuh besar," kata Peneliti Ekonomi Syariah SEBI School of Islamic Economics (STEI SEBI), Aziz Setiawan kepada Republika, Ahad (22/1).

Ia mengatakan, artinya ada kaidah-kaidah organisasi yang harus dipenuhi. Hal tersebut menjadi tantangan untuk Koperasi Syariah 212. Menurut pandangannya, memang ada beberapa organisasi atau koperasi yang bisa bertahan lama dan tumbuh besar.

Tapi, faktanya banyak juga ditemui koperasi yang bisa bertahan lama tapi tidak besar-besar. Kemudian, ada juga koperasi yang tumbuh besar dengan cepat tapi runtuhnya juga cepat. "Berharap Koperasi Syariah 212 tumbuh cepat dan besar tapi juga bertahan lama," ujarnya.

Dijelaskan dia, ada perusahaan yang sudah bertahan sangat lama. Tapi setelah 200 tahun perusahaan tersebut tumbang karena ada kaidah organisasi yang dilanggar.

Menurutnya, prinsip paling mendasar untuk membangun koperasi yang anggota dan pemikirannya sangat banyak. Maka yang diperlukan adalah menyatukan semua itu menjadi sebuah kepercayaan terhadap leadership dan konsep organisasi. Kemudian, bagaimana mengupayakan agar manajemen dan SDM yang ada di dalam koperasi dibangun dengan budaya unggul.
Link Banner
Loading...


loading...
Link Banner
Loading...