Jumat, 02 Desember 2016

BNN Papua Bekuk Mantan Polisi Simpan Sabu-Sabu

PRIBUMI.WIN, JAKARTA - JAYAPURA -- Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua menangkap BFD, mantan anggota Polri yang memiliki satu paket sabu-sabu di tempat tinggalnya, Jalan Tasangkapura, Kota Jayapura.

"Pelaku BFD diamankan pada Jumat dini hari sekitar pukul 03.00 WIT di Jalan Tasangkapura, Kota Jayapura," kata Kepala BNN Provinsi Papua Sukisto di Kota Jayapura, Jumat.

Penangkapan BFD, kata dia, dilakukan setelah mendapat informasi dari warga tentang adanya tindak pidana narkotika di Jalan Tasangkapura sehingga personel lakukan koordinasi untuk lakukan penyelidikan dan penangkapan.

"Nah, berdasarkan informasi itu, personel BNN Provinsi Papua melakukan penyelidikan keberadaan yang bersangkutan," katanya.

Saat di lakukan pemeriksaan atau penggeledahan di tempat tinggal BFD, kata dia, ditemukan satu paket sabu-sabu dengan alat isap.

"Jadi, setelah di lakukan penggeledahan, BFD ternyata menyimpan kedua barang bukti itu di kamarnya," katanya.

Kini, pelaku BFD, telah diamankan di kantor BNN Provinsi Papua guna diminta keterangan lebih lanjut.

"BFD sudah di BNN Papua untuk dilakukan pemeriksaan dan pengembangan kasus," katanya.
MUNGKIN INI YANG ANDA CARI, YANG ANDA BUTUHKAN
loading...

JANGAN LUPA BACA JUGA TIPS DI BAWAH INI, SEMOGA BERMANFAAT
loading...
SUMBER BERITA DARI ANTARANEWS.COM

loading...

Jika tak Selesai, Kasus Ahok Dapat Timbulkan Masalah pada 2017

PRIBUMI.WIN, JAKARTA - Enterpreneur sosial, Erie Sudewo meminta pemerintah serius menyikapi Aksi Bela Islam III. Ia meyakini, apabila pemerintah mengbaikan suara umat Islam yang meminta kejelasan status tersangka dan penahanan gubernur nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), akan mengganggu roda pemerintahan pada 2017.

"Ă„khir tahun ini pemerintah tak lakukan hal utama. Maka 2017 akan bermasalah besar ini, dan akan terganggu," kata Erie saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (2/12).

Ia menyebut, satu hal yang patut disyukuri, yakni Ahok tinggal di Indonesia. Berbeda halnya apabila Ahok tinggal di luar negeri. "(Menghina Alquran) kalau di luar, bisa terbunuh Ahok. Di sini kantidak, ini yang harus dipikirkan," ujar dia.

Erie mengingatkan, jangan sampai hanya karena satu orang bermasalah, maka merusak kesatuan Indonesia. Pun ia tidak sepakat apabila umat Islam yang menuntuk kejelasan status Ahok, disebut tidak memihak NKRI.

Ia juga sepakat ihwal anggapan yang menyebut, apabila orang jauh yang dilaporkan akan segera ditangkap. Sementara, apabila orang dekat yang dilaporkan, susah bergerak. Erie meyakini, Aksi Bela Islam tidak akan berhenti sebelum adanya kejelasan status terhadap Ahok. "Ini masalah krusial," jelasnya.

Ia mengapresiasi tindakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang berbaur dengan umat Islam yang turun ke jalan. Menurutnya, sudah sewajarnya seorang pemimpin negara melakukan hal tersebut. "Jokowi kan presiden seluruh umat, tak berpihak kiri-kanan, presiden semua," ujar dia.

Ia mengingatkan, Indonesia menjunjung asas demokrasi. Asas yang menjunjung tinggi kebebasan dan mendengar suara terbanyak. "Jangan lupa asas demokrasi, pakainya mayoritas. Mayoritas sekarang berkehendak, kok malah diabaikan," kata dia.

Ia khawatir apabila kasus dugaan penistaan agama tidak diselesaikan secara serius, akan terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan keutuhan NKRI. "Kalau tegas, pemerintah tak akan masalah itu," jelasnya.
MUNGKIN INI YANG ANDA CARI, YANG ANDA BUTUHKAN
loading...

JANGAN LUPA BACA JUGA TIPS DI BAWAH INI, SEMOGA BERMANFAAT
loading...
SUMBER BERITA DARI REPUBLIKA.CO.ID

loading...

Geprindo: Penangkapan Tokoh Pergerakan Bukti Pemerintah Jokowi Sangat Anti Kritik Demi Melindungi Tersangka Untuk Mengharapkan Uang China

PRIBUMI.WIN, JAKARTA - Geprindo: Polri Harus Segera Bebaskan Para Tokoh Pergerakan

Penangkapan para tokoh pergerakan adalah bukti pemerintahan Jokowi sangat anti terhadap kritik. Demi Melindungi Tersangka Untuk Mengharapkan Uang China

Oposisi dituduh dengan tuduhan yang kejam, kata "makar" adalah tuduhan yang serius, sebab ancamannya bisa di hukum seumur hidup. Polisi tidak boleh terlalu mudah menuduh para aktifis pergerakan dengan tuduhan demikian, sangat berbahaya dan bisa merusak nama baik yang bersangkutan. Upaya penanganan yang dilakukan oleh pihak kepolisian juga sangat berlebihan, para tokoh dan aktifis di jemput di tempat mereka beristirahat, mirip seperti yang terjadi pada peristiwa penculikan jendral G 30S PKI.

Tokoh senior seperti Rachmawati Sukarno Putri, Ratna Sarumpaet, dan Sri Bintang Pamungkas, dll adalah para tokoh yang di hormati oleh jutaan rakyat di Indonesia, tidak pantas mereka diperlakukan seperti seorang teroris. Mereka tidak gila kekuasaan, yang mereka perjuangkan selama ini justru demi menjaga dan menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari kehancuran sistem bernegara akibat di amandemennya UUD 1945. Mereka sangat mencintai NKRI, mereka para pejuang demi tegakkan nya Pancasila, jadi sangat ngawur jika polri menangkap mereka dengan tuduhan makar. Bu Rachmawati adalah putri bung Karno, dan penerus ajaran bung karno,  beliau sangat concern dengan keadaan indonesia yang semakin liberal dimana negara semakin kehilangan kedaulatan, sedangkan Ratna Sarumpaet adalah orang yang  sangat perduli dengan kondisi rakyat kecil yang terus tertindas oleh kekuasaan, tumpulnya hukum jika sudah menyentuh orang-orang yang sedang berkuasa, kemudian Sri Bintang Pamungkas adalah orang yang sangat khawatir atas adanya ancaman hegemoni RRC dan Amerika di Indonesia. Mereka semua adalah para tokoh yang menjadi bagian sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Kami meminta kepada Kapolrin Tito untuk segera membebaskan para tokoh yang di tangkap pagi hari tadi tanpa syarat. 

Mereka adalah patriot bangsa, guru bangsa, apalagi diantara mereka sudah berumur, kesehatannya pun sedang dalam kondisi kurang baik, janganlah memperlakukan mereka dengan kasar, pemerintah harus menghormati kekhawatiran mereka atas bangsa ini dengan segera  menggelar dialog, bukan bertindak represif. Mereka tidak haus kekuasaan, mereka murni merah putih, mereka NKRI, jadi tidak mungkin makar. 

Salam Pribumi Indonesia

Bastian P Simanjuntak
Presiden 
Gerakan Pribumi Indonesia (GEPRINDO)
MUNGKIN INI YANG ANDA CARI, YANG ANDA BUTUHKAN
loading...

JANGAN LUPA BACA JUGA TIPS DI BAWAH INI, SEMOGA BERMANFAAT
loading...
SUMBER BERITA DARI POSTMETRO.CO

loading...

Jokowi-JK Hadir di Aksi 212, Yuddy Chrisnandi: Buzzer Bayaran & Pencela 411-212 Shock!

PRIBUMI.WIN, JAKARTA - Kehadiran Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla di Monumen Nasional untuk ikut sholat Jum’at pada Aksi Bela Islam III, 2 Desember 2016, membuat shock para pencela Aksi Bela Islam 411 dan 212.

Sindiran itu dilontarkan mantan Menpan RB Yuddy Chrisnandi. “Buzzer-buzzer bayaran, para pengekor ‘Gazel’, para pencela 411-212, tukang nyinyir..shock! Tercengang-Kecele! Presiden-Wapres ikut Jumatan di Monas,” tulis Yuddy Chrisnandi di akun Twitter ‏@yuddychrisnandi.

Kehadiran Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla untuk ikut sholat berjamaah dalam Aksi Bela Islam III yang digelar hari ini (02/12) memunculkan simpati.

“Pak @jokowi bergabung ke Monas seperti harapan saya. Keputusan yang kereeen dan menenangkan. Keputusan yang menggembirakan pak. Peluk Rakyat mu,” tegas Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak di akun Twitter @Dahnilanzar.

‏@Dahnilanzar juga menulis: “Kemaren saya dibilang gila oleh buzzer Ahok ketika meminta Presiden @jokowi bergabung umat yang menyampaikan aspirasi. Kini Beliau melakukannya.”

Sebelumnya, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengajak Presiden Jokowi untuk ikut sholat Jum’at berjamaah di aksi damai 212.

“Kalau Pak Jokowi berkenan shalat Jumat berjemaah bersama-sama besok, kondisinya pasti akan sangat aman dan damai, akan sangat indah sekali,” ujar Hidayat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (01/12). [intelijen]
MUNGKIN INI YANG ANDA CARI, YANG ANDA BUTUHKAN
loading...

JANGAN LUPA BACA JUGA TIPS DI BAWAH INI, SEMOGA BERMANFAAT
loading...
SUMBER BERITA DARI POSTMETRO.CO

loading...

Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Nyatakan Bangga & Apresiasi Aksi Damai Bela Islam III

PRIBUMI.WIN, JAKARTA - Ketua Persekutuan Gereja-geraja di Indonesia (PGI), Pendeta Albertus Patty, memberikan pandangannya atas Aksi 212. Bahkan, ia mengapresiasi umat Islam yang walau jutaan mengikuti aksi, tetap bisa menjaga kedamaian.

"Sebagai anak bangsa, kami bangga dan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada umat Islam yang mampu bersikap tertib, aman dan damai," kata Pendeta Albertus kepada Republika, Jumat (2/12).

Ia mengaku mendukung, aksi damai yang dilakukan umat Islam melalui doa bersama, dan memang bertujuan untuk kebaikan bangsa. Menurut Pendeta Albertus, PGI dan semua jemaat PGI meyakini apa yang dilakukan umat Islam di Indonesia akan menjadi contoh dan teladan.

Bahkan, lanjut Albertus, Muslim Indonesia akan mampu menjadi contoh dan teladan, tidak cuma bagi umat Islam di Indonesia melainkan warga dunia. Menurut dia, teladan itu terutama terkait bagaimana cara bereaksi secara damai dan tertib.

"Kami percaya apa yang dilakukan umat Islam Indonesia akan menjadi contoh dan teladan bagi umat Islam dan warga dunia," ujar  Albertus.

Aksi damai Bela Islam Jilid ketiga ini membawa aspirasi agar tersangka kasus penistaan agama, Basuki T Purnama alias Ahok, segera ditahan. Saat ini kasus itu telah dinyatakan lengkap atau P 21 dan dipegang Kejaksaan Agung. [rol]
MUNGKIN INI YANG ANDA CARI, YANG ANDA BUTUHKAN
loading...

JANGAN LUPA BACA JUGA TIPS DI BAWAH INI, SEMOGA BERMANFAAT
loading...
SUMBER BERITA DARI POSTMETRO.CO

loading...
loading...
loading...