Selasa, 13 Desember 2016

Ahok Menangis Dengan Tulus ?

PRIBUMI.WIN, JAKARTA - Ahok Menangis Dengan Tulus?
Oleh: DR  Iswandi Syahputra, Pengamat Komunikasi/Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

=============
Christophe Dugarry, mantan pemain sepak bola Barcelona asal Prancis pernah berpura-pura menangis di hadapan Louis van Gaal. Dugary menangis di hadapan pelatih Barcelona saat itu untuk meraih simpati agar dia bisa dijual ke klub lain. Butuh latihan dan penghayatan yang dalam agar bisa berpura-pura menangis. Sebagai pemain bola, mudah bagi Dugary berpura-pura menangis karena dia juga dilatih untuk berpura-pura kesakitan (diving) saat di tackle di lapangan.

Beberapa sahabat Rasulullah SAW juga sering menangis, sebut saja Abu Bakar Ra atau Umar Ra. Keduanya sering menangis saat menjadi Imam sholat atau membaca Al-Qur’an terutama saat membaca ayat tertentu. Umar Ra, merupakan sahabat Rasul yang paling tegas, keras dan berani. Toh, bisa juga menangis. Ini terjadi karena kekuatan, keyakinan, dan penghayatan Sahabat Rasul pada Alqur’an.

Saat membaca Nota Keberatan (eksepsi) dalam persidangan, Ahok juga menangis. Apakah Ahok berpura-pura menangis seperti Dugarry? Atau Ahok menangis karena kebenaran, keyakinan, atau penghayatannya pada Al-Qur’an? 

Tidak, tidak keduanya. Ahok menangis dengan tulus, bukan berpura-pura. Tapi Ahok juga menangis bukan karena kebenaran, keyakinan, atau penghayatan pada Al-Qur’an. Ahok manusia biasa, dia bisa sedih dan menangis.

Dan dia menangis bukan karena menyesal tapi disorong perasaan sedih mengenang orang tua angkatnya yang sudah meninggal dunia. Selesai. Soal tangisan Ahok, berhenti sampai disitu.
Tapi…. tangisan Ahok menjadi penting karena dua hal:

PERTAMA, itu bukan tangisan penyesalan. Ini sesuai dengan sikap Ahok yang berkali-kali meyakinkan majelis hakim dan publik bahwa dirinya tidak ada niat menista kitab suci Al-Qur’an dan Ulama. Artinya, Ahok orang yang konsisten pada sikapnya. Singkatnya, Ahok merasa tidak bersalah. Dan dia menangis bukan karena rasa bersalah.

KEDUA, ini masa kampanye Pilkada DKI. Ahok menangis atau tidak, persidangan merupakan kesempatan emas ‘beriklan’ gratis tentang apa yang sudah dilakukan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Itulah maka sebabnya, Nota Keberatan yang seharusnya berisi tentang kaburnya tuntutan, diisi dengan sejumlah capaian yang telah dilakukan Ahok saat menjadi Gubernur DKI.

Terlepas capaian itu benar atau bukan, dapat diperdebatkan atau tidak, tidak ada yang dapat membantah karena ini ‘diselipkan’ dalam naskah ‘Nota Keberatan’ yang diakui dalam hukum acara. Ahok dengan cerdas memanfaatkan keadaan dari situasinya yang sulit dan terjepit.
Ahok sepertinya dengan sangat leluasa menyampaikan visi dan misinya sebagai calon Gubermur DKI Jakarta secara terbuka, menyebar dan langsung pada khalayak.

 Dampaknya, tentu akan ‘mengganggu’ pikiran khalayak yang belum yakin dengan pilihannya pada Pilkada DKI atau ‘mengusik’ fikiran rakyat Indonesia yang ragu-ragu dengan kepemimpinan Ahok di masa depan.
Karena mengandung kebenaran, disampaikan dalam suatu persidangan resmi di bawah sumpah, disiarkan langsung dan terbuka maka, tidak ada kesempatan publik untuk mengkonfirmasi kebenaran kisah Ahok dalam persidangan.

Dalam propaganda ini disebut dengan 'Gliterring Generality', yaitu membungkam publik dengan sesuatu yang dihubungkan dengan kata yang baik, dipakai untuk membuat sesuatu dapat diterima karena mengandung kebenaran dan menyetujuinya tanpa memeriksa bukti kebenarannya.

Misalnya, Ahok bersedekah atau berzakat 2,5 persen dari gajinya bahkan ikut berkurban. Itu semua konsepsi hukum Islam yang sebenarnya tidak mengikat Ahok secara hukum. Jadi tidak perlu disampaikan. Tapi karena mengandung kebaikan, publik tidak berminat memeriksanya.

Demikian juga dengan mengumrahkan ‘marbot’ atau mendirikan mesjid selama Ahok menjadi Gubernur, karena mengandung kebaikan, publik enggan memeriksa kebenarannya.
Benarkah Ahok membangun mesjid? Dimana? Kapan? Berapa mesjid? Benarkah Ahok mengumrahkan marbot? Kapan? Berapa orang?

Alhasi, semua ini seperti pedagang lemper atau arem-arem isi daging ayam. Dengan meyakinkan pedagang jajakan lemper isi daging ayam. Orang yang tertarik langsung membeli tanpa memeriksa. Setelah dimakan, lempernya cuma berisi secuil kulit ayam dicampur tempe. Apakah penjual lemper berbohong? Tentu tidak karena faktanya ada ‘kulit ayam’ walau secuil.

Lantas mengapa secara simbolik Ahok mengumbar beberapa tema Islam saat pembacaan eksepsi? Jawabannya, Ahok lagi bekerja memenangkan Pilkada DKI karena Ahok salah satu calon Gubernur. Ini masa kampanye, dan mayoritas pemilihnya adalah umat muslim.

Saya tidak melihat Ahok memanfaatkan pembacaan eksepsi untuk menjelaskan kekaburan tuduhan yang diarahkan padanya. Saya juga tidak melihat Ahok merasa bersalah. Saya melihat Ahok tetap konsisten bahwa dia tidak memiliki niat menghina Al-Qur’an dan Ulama.

Dan saya melihat Ahok sedang memaparkan ‘kebenaran’ dan ‘kebaikan’ menurut apa yang diyakininya benar dan baik.
Semakin Ahok hebat, umat Islam harus semakin cermat…
SUMBER BERITA DARI POSTMETRO.CO
Loading...

loading...

0 komentar:

Poskan Komentar