Jumat, 09 Desember 2016

Hidup Kembali Bergeliat di Pidie Jaya

PRIBUMI.WIN, PIDIE JAYA -- Dua hari pascagempa 6,5 SR, Rabu (7/12) lalu, aktivitas warga Pidie Jaya, Aceh mulai kembali bergeliat. Toko-toko hingga rumah makan di kabupaten ini mulai dibuka.

Tempat-tempat nongkrong pun mulai dipenuhi mereka yang sekadar bersantai ataupun warga luar kota yang datang menengok keadaan keluarganya. Aktivitas warga ini mulai hidup lagi seiring listrik yang telah kembali menyala.

Jika mengingat kembali saat hari terjadinya gempa Rabu lalu, suasana di kabupaten ini sangat berbeda jauh. Sehari pascagempa besar pertama terjadi, Pidie Jaya tampak seperti kota mati. Ruko-ruko yang berjajar hampir di sepanjang Jalan Timur Sumatera tutup. Begitu juga dengan yang ada di jalan-jalan protokol kabupaten ini.

Etalase makanan yang berada di luar tampak dibiarkan begitu saja. Tomat, timun, dan berbagai sayur bahan makanan lain berserakan di dalamnya. Pasar-pasar pun kosong, tak ada yang berjualan. Warga kesulitan mendapatkan makanan.

Tak hanya makanan, kebutuhan akan daya listrik juga terganggu dengan padamnya aliran listrik pascagempa. Mereka yang ingin mengisi daya ponsel atau peralatan elektronik lain harus menumpang di SPBU atau tempat-tempat yang menggunakan genset.

Namun, kondisi itu mulai berubah. Hari ini, Jumat (9/12), aktivitas warga telah mulai kembali normal seiring dengan kembali menyalanya listrik Kamis kemarin. Toko-toko mulai dibuka. Tempat makan pun mulai dipenuhi warga, termasuk tempat nongkrong.

Warung kopi (warkop) yang sangat banyak berdiri di Pidie Jaya mulai melayani para peminum kopi. Pengunjung pun tampak mulai memenuhi warkop-warkop tersebut.

Salah seorang pengunjung warkop di Jalan Tgk Syik Pante Geulima Meureudu, Marzuki mengaku gempa besar yang terjadi Rabu subuh tidak memengaruhi hobinya untuk meminum kopi di warkop. Laki-laki berusia 42 tahun ini mengklaim diri sebagai penyuka kopi. Hampir setiap sore, dia meminum kopi di warkop dekat rumahnya itu.

"Kalau kira-kira gempa, tinggal lari ke luar. Makanya milih di luar, nggak di dalam duduknya," kata Marzuki.

Marzuki mengakui jika dia memang merasa sedikit khawatir. Apalagi, warkop langganannya merupakan toko berlantai dua. "Agak was-was juga pascakejadian gempa kemarin. Tapi, ya sudah lah, Bismillah aja," ujar dia. 

Hal senada disampaikan Fadli (36 tahun). Pengunjung salah satu warkop di Jl Iskandar Muda, Meureudu ini mengaku rindu nongkrong di warkop langganannya saat tutup Rabu dan Kamis kemarin. Setiap hari, dia memang selalu meminum kopi di warkop tersebut. "Biasa aja, kalau ada gempa lari," kata Fadli.

Saat ditemui Republika.cp.id, Fadli sedang duduk bersama dua temannya. Mereka tampak mengobrol santai sembari ditemani kopi hitam dan rokok. "Insya Allah nggak ada apa-apa lah. Rindu juga kalau nggak ngopi di sini," ujar dia.

Salah seorang pemilik warkop lain di Jl Iskandar Muda, Rusli mengaku sedikit khawatir untuk kembali membuka warkopnya yang berada di ruko berlantai dua. Namun, atas nama mencari nafkah, warkopnya telah kembali dibuka sejak Kamis kemarin.

"Takut juga, jantung ini deg-degan terus. Kayaknya harus minum air putih pakai gula biar jantung kuat. Tapi namanya cari rezeki kan," kata Rusli sembari tertawa.

Laki-laki berusia 52 tahun ini mengakui jika pengunjungnya memang berkurang pascagempa. Hal ini pun membuat jam operasional warkopnya menjadi lebih singkat. Jika sebelumnya warkop Rusli buka sejak pukul 06.00 WIB hingga 16.00 WIB, sekarang hanya sampai pukul 14.00 WIB. "Memang agak kurang yang datang. Langganan ngungsi semua. Orang baru semua ini," ujar dia.

Selain warkop, deretan toko di Meureudu juga telah kembali melayani pembeli. Di ibu kota Pidie Jaya inilah, banyak ruko yang roboh dan menimpa penghuninya.

Salah seorang pemilik toko ponsel di Jl Iskandar Muda, Meureudu, Muliadi Awahap (38) mengaku sedikit khawatir membuka tokonya yang berlantai dua. Namun, dengan sedikit terpaksa, dia tetap harus berjualan.

"Takut ada, tapi namanya cari rezeki, apalagi masih ada tunggakan, tagihan. Jadi tetap harus cari uang. Kalau gempa, tinggal lari kita ke luar," ujar dia.

Berbagai ponsel dan perlengkapannya masih berserakan di dalam etalase saat Republika.co.id menemui Muliadi. Dia pun sesekali tampak keluar dari dalam tokonya. "Antisipasi aja. Tutupnya juga biasanya malam, jadi sampai sore aja," ujar warga kecamatan Ulim ini.
SUMBER BERITA DARI REPUBLIKA.CO.ID
Loading...

loading...
loading...

0 komentar:

Poskan Komentar