Senin, 19 Desember 2016

Setelah Nyatakan Ahok Menista Agama, Mengapa MUI Terus Diserang dan Dilecehkan Tokoh Liberal & Tim Nasi Bungkus Jokowi Ahok?

PRIBUMI.WIN, JAKARTA - Eksistensi Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus dipertanyakan tokoh liberal dan pendukungya. Fatwa MUI tentang penggunaan Atribut Keagamaan NonMuslim menyambut Natal 2016, menjadi senjata baru kelompok liberal untuk menyerang MUI. Sebelumnya, MUI dipertanyakan karena menyatakan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melakukan penistaan agama.

Politisi PDIP yang juga tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi menegaskan bahwa fatwa MUI merupakan opini, sehingga akan terus ditandingi dengan opini yang lain. “Fatwa MUI itu opini, akan ditandingi dengan opini yang lain. Mufti Mesir berfatwa, dan al-Azhar berfatwa. Kadang fatwanya sama, tapi kadang beda,” tulis Zuhairi di akun Twitter ‏@zuhairimisrawi.

Senada dengan Zuhairi, tokoh liberal Akhmad Sahal di akun ‏@sahaL_AS me-retweet akun king_odar: “Betul, fatwa MUI atau Ulama secara umum tak mengikat. Makanya gerakan mengawal fatwa MUI itu lucu. Opini hukum kok pake dikawal.”

Putri Gus Dur, Alissa Wahid turut mengomentari sosialisasi fatwa MUI tentang atribut keagamaan yang dilakukan massa Front Pembela Islam di Surabaya. “Kewajiban aparat menertibkan yang ingin main hakim sendiri. MUI bukan lembaga negara, fatwanya bukan hukum positif,” tulis @AlissaWahid.


Sebelumnya, KH Mustofa Bisri di akun ‏@gusmusgusmu menulis: “Karena tidak tahu, banyak orang ~termasuk mungkin yang di MUI dan di Pemerintahan~ menganggap bahwa MUI itu lembaga negara yang fatwanya mengikat.”

Diberitakan, massa FPI Surabaya mendatangi tujuh mall di kota Surabaya untuk melakukan sosialisasi fatwa MUI.

Dalam sosialisasi itu tampak Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol M Iqbal ikut mengawal aksi FPI Jawa Timur ke mal-mal dan tempat perbelanjaan di Kota Pahlawan, Minggu (18/12). M Iqbal menegaskan aksi yang dilakukan FPI) bukanlah sweeping. Massa FPI menggelar pawai ta’aruf guna mensosialisasikan Fatwa MUI No 56/2016 tentang Hukum Penggunaan Atribut Keagamaan Nonmuslim di mal-mal dan pusat perbelanjaan, terutama atribut Natal. [itj]
SUMBER BERITA DARI postmetro.co
Loading...

loading...
..

0 komentar:

Poskan Komentar