Jumat, 06 Januari 2017

Di Raja Ampat, Harga Cabai Meroket Jadi Rp200 Ribu per Kg

PRIBUMI.WIN, JAKARTA -  Harga cabai rawit semakin meroket, terutama di kawasan timur Indonesia. Di pasar tradisional Waisai Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, harga cabai rawit telah menjulang hingga mencapai Rp200 ribu per kilogram selama sepekan terakhir.

Seperti dilansir dari kantor berita Antara, Nurlia (45), seorang pedagang Pasar Waisai Raja Ampat, Sorong, mengaku menawarkan satu kilogram cabai rawit seharga Rp200 ribu. Harga itu melompat 333,33 persen atau Rp140 ribu dari harga sebelumnya Rp60 ribu per kilogram.

Nurlia mengaku, harga cabai rawit dari tingkat agen di Kota Sorong sudah naik tak ada pilihan juga menaikkan harga penjualan kepada konsumen.

“Pasokan cabai rawit dari agen dan petani terbatas, sedangkan permintaan di pasar cukup tinggi tak ada pilihan pedagang juga menaikkan harga jualnya ke konsumen,” ujarnya, Jumat (6/1).

Ia menambahkan, kondisi tersebut berbeda dengan harga tomat yang tidak ada kenaikan Rp30 ribu per kilogram pada tingkat agen maupun petani. Pasalnya, stok tomat terpantau melimpah di pasar.

Labih lanjut, Nurlia mengungkapkan, pasokan cabai rawit dari petani lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dan masyarakat setempat sehingga pedagang mendatangkan dari luar Raja Ampat yakni, Kota Sorong dan Makasar, Sulawesi Selatan. Apalagi permintaan terus mengalir.

"Meskipun harga cabai tinggi, tetapi tidak mengurangi minat masyarakat untuk membeli," katanya.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mempertimbangkan opsi impor cabai mengatasi persoalan harga yang meroket karena kendala distribusi. Opsi ini terbuka, dengan catatan upaya yang tengah dilakukan pemerintah saat ini tidak membuahkan hasil.

"Impor, mungkin. Tetapi, kami mau pastikan dulu ketersediaan pasokan cabai ini. Kalau masih bisa upayakan dalam negeri, tentu kami tidak mau impor," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurman kepada CNNIndonesia.com, Kamis (5/1).

Saat ini, Kemendag telah mengerahkan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) untuk menjadi motor penggerak distribusi cabai dari beberapa sentra produksi ke berbagai daerah yang mengalami kenaikan harga cabai.

Pemerintah, sambung Oke, merasa perlu mengintervensi memuluskan jalur distribusi, mengingat komoditas cabai menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam mengerek laju inflasi.

"Misalnya, Sumatra Barat, jalannya rusak dan cuasa menghambat. Di Kalimantan juga, tetapi itu karena pasokannya minim. Jadi, kami tunjuk PPI untuk membantu distribusi cabai ke sana," terang dia.

Berdasarkan data BPS Desember 2016 lalu, komoditas cabai merah menjadi komoditas pangan di urutan pertama, dan memiliki andil sebesar 0,35 persen terhadap inflasi. Diikuti dengan bawang merah 0,17 persen, bawang putih 0,11 persen, dan ikan segar 0,09 persen. (dtk)
SUMBER BERITA DARI POSTMETRO.CO
Link Banner
Loading...


loading...

0 komentar:

Poskan Komentar