Minggu, 22 Januari 2017

Perindo: Hary Tanoe Bisa Jembatani Hubungan Indonesia dan AS Menjadi Lebih Baik Bersama Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Perindo menilai ketua umumnya Hary Tanoesoedibjo bisa menjembatani hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat. Ketua umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo menjadi salah satu tamu undangan dalam pelantikan presiden terpilih AS, Donald Trump.

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Perindo, Ahmad Rofiq, dengan diundangnya Hary Tanoe dapat membuat hubungan Indonesia dan AS bisa lebih harmonis lagi. Hary Tanoe diharapkan dapat memberikan satu pendapat kepada pemerintah AS, bahwa Indonesia adalah mitra yang strategis serta lebih luas.

"Dengan adanya hubungan baik antara pak Hary dengan Trump yang sekarang kebetulan menjadi presiden Amerika dapat memperbaiki dan membuka lagi kerja sama-kerja sama dalam banyak aspek, dalam bidang ekonomi, dalam investasi, dan dalam pertahanan," kata Ahmad Rofiq, saat dihubungi melalui telepon selulernya, Ahad (22/1).

Ahmad Rofiq juga mengakui, Hary Tanoe memiliki kepentingan politik dalam hubungan dengan Trump. Namun kepentingan itu bukan hanya personal antara Hary Tanoe dengan Trump semata, tapi lebih kepada negara dengan negara. Hal itu diharapkan membuka hubungan kerja sama antara Indonesia dan AS lebih luas termasuk dalam pendidikan.

Dia menilai hubungan Hary Tanoe dan Trump tidak akan membuat konflik kepentingan. "Sama sekali tidak ada konflik kepentingan, hubungan itu sudah terbangun sebelum dia menjadi presiden. Maka tidak ada skenario apapun ke depannya, justru ini sebuah berkah Trump bisa menjadi presiden, dan kami berharap rakyat Indonesia berkah dari kemenagan Trump ini," tuturnya.

Dia mengakui Hary Tanoe sebagai seorang pebisnis memiliki kerja sama bisnis dengan Trump dengan nilai besar. Bisnis itu seperti pembangunan dua resort di Bogor dan Pulau Bali, yang akan dikelola oleh Trump Hotel Collection, di bawah payung Trump Organization. "Nilai bisnisnya sangat besar sekali, dan nominalnya kurang hapal. Lahan yang dikerjasamakan cukup besar sekali, kurang lebih dari 3.000 hektare di Bogor dan 200 hektare di Bali, dan proses kerja samanya sudah dimulai," ujarnya.
Link Banner
Loading...


loading...

0 komentar:

Poskan Komentar