Jumat, 27 Januari 2017

Raja Arab Saudi dan Jokowi Bertemu Tak Bahas Habib Rizieq, tapi Soal Ini

PRIBUMI.WIN, JAKARTA - Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud akan berkunjung ke Indonesia pada 1-9 Maret mendatang.

Awalnya, beredar informasi bahwa Raja Arab Saudi akan menemui Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab. Namun Dubes Arab Saudi untuk Indonesia menyatakan bahwa kabar itu tidak benar alias hoax.

Raja Arab Saudi berkunjung ke Indonesia untuk memenuhi undangan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kedatangan Raja Arab itu juga berkaitan dengan isu-isu yang masih mengganjal dalam investasi Arab Saudi di Indonesia.

Pimpinan Komisi VI DPR RI, Inas N. Zubir mengatakan, program Pemerintahan Jokowi di sektor pengilangan minyak, perumahan rumah murah dan pariwisata telah menarik minat Arab Saudi untuk berinvestasi, terutama investasi di sektor pengilangan minyak yang selama 10 tahun terakhir ini terabaikan.

Dalam program pembangunan kilang minyak, Jokowi telah menginstruksikan Pertamina untuk segera merevitalisasi dan membangun kilang baru, dan kemudian Pertamina menyerjemahkannya dalam road map Grass Root Refinery (GRR) dan Refinery Development Master Plan (RDMP).

Investasi yang dibutuhkan untuk RDMP di Balikpapan sebesar US$ 4,6 miliar dan Cilacap US$ 5 miliar. Sedangkan investasi yang dibutuhkan untuk GRR di Bontang sebesar US$ 14 miliar dan Tuban US$ 14 miliar.

Inas menjelaskan, perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, telah dilengserkan dari GRR Tuban oleh perusahaan minyak yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pemerintah Rusia, Rosneft.

Selain itu, Saudi Aramco juga menjadi investor di RDMP Cilacap, dimana JV Agreement-nya sudah ditanda tangani di bulan november 2016 yang lalu tetapi menuai protes dari Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB).

“Dalam JV Agreement tersebut tampak benar bahwa Saudi Aramco memperoleh keuntungan yang lebih besar ketimbang Pertamina,” kata Inas.

Dalam RDMP Cilacap tersebut Saudi Aramco akan membenamkan investasinya sebesar US$ 5 miliar untuk meningkatkan kapasitas kilang Cilacap dari 350 MBCD menjadi 400 MBCD, di mana kemudian komposisi kepemilikan kilang Cilacap berubah menjadi 55 persen Pertamina dan 45 persen Saudi Aramco.

Dalam JV Agreement diatur bahwa setelah RDMP Cilacap selesai, maka Pertamina harus membeli seluruh produk kilang Cilacap dengan harga IPP (Import Parity Price) atau harga import dengan formula MOPS (Mean Of Platts Singapore) yang tentunya sangat tidak menguntungkan bagi rakyat Indonesia.

“Isu tentang GRR Tuban dan RDMP Cilacap tersebut diperkirakan akan menjadi topik utama pembicaraan Pangeran Salman dengan Jokowi. RDMP Balikpapan dan GRR Bontang juga seksi untuk dibicarakan oleh kedua kepala negara, asalkan Indonesia tidak menjadi sapi perahan Saudi Arabia,” ujar Inas.[psi]
SUMBER BERITA DARI POSMETRO.INFO
Link Banner

Loading...


loading...

0 komentar:

Poskan Komentar