Kamis, 19 Januari 2017

TAKUT HADAPI HABIB RIZIEQ, KAPOLDA JABAR INGIN “BENTURKAN” FPI DENGAN WARGA SUNDA DENGAN MEMBENTUK ORMAS GMBI

PRIBUMI.WIN, JAKARTA - Terkait dengan sebuah postingan yang beredar di Sosial Media (sosmed) yang berisi undangan dari Kapolda Jawa Barat kepada tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh-tokoh lainnya yang berasal dari LSM dan Ormas, untuk membahas persoalan keberadaan Ormas yang dianggap ingin menghancurkan Pancasila dan NKRI.

Justru dianggap aneh oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lembaga Dakwah Khusus DKI Jakarta Mohamad Naufal Dunggio. Karena sudah jelas yang dimaksud adalah Front Pembela Islam (FPI) bersama Imam Besar FPI Habib Rizieq.

Menurut Naufal jika persoalan menista NKRI dan Pancasila, justru FPI yang mendapatkan paling banyak pujian dari pejabat negeri ini selama FPI berdiri. Dan itu terbukti ketika persoalan NKRI dan Pancasila yang terkoyak akibat bencana alam dan juga terkait dengan merajalelanya beberapa maksiat yang bisa menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia yang berdasarkan agama. FPI berada di garis depan untuk memperbaiki yang rusak dan yang akan merusak.

Undangan yang juga disebarkan oleh beberapa akun milik anggota Kepolisian Polda Jabar melalui sosmed Facebook. Yang mengajak para warga Jabar untuk berkumpul di lapangan Gazibu Kota Bandung dengan tema “Sawala Apel Akbar 191-999 masyarakat Jabar Bersatu”.

“Bersama dan bersatu untuk membubarkan ormas penista Pancasila, penista budaya dan pemecah persatuan NKRI,” ujar Kapolda Irjen Polisi Anton Charliyan, Selasa (17/1) di Mapolda Jabar.

Rupanya hal tersebut memicu reaksi para netizen dan menganggap jika langkah Kapolda Jabar sudah memanfaatkan jabatannya. Karena undangan tersebut dianggap sebagai bagian dari sakit hati Kapolda yang menjadi pembina Ormas GMBI yang menjadi musuh utama umat muslim belakangan ini.

“Sebagai Polisi apakah Pak Anton sudah mendapatkan ijin dari pimpinannya untuk mengadakan kegiatan, kalau iya berarti Kapolri juga terlibat,” ujar Mohamad Naufal Dunggio.

Menurutnya persoalan FPI dan GMBI berada di wilayah sipil, dan Anton sendiri sebagai polisi aktif sudah tentu tidak boleh menjabat sebagai dewan pembina sebuah ormas, karena melanggar aturan sebagai seorang anggota Polisi. Bahkan hal tersebut menjadi sorotan Komisi III DPR RI dan menjadi salah satu alasan agar mencopot Anton dari Jabatannya.

Sementara persoalan permintaan pencopotan Anton dari jabatannya sebagai Kapolda Jabar oleh FPI adalah ranah Kapolri, dan menurut Naufal jika dikaitkan dengan hal tersebut, maka secara tidak langsung Anton sudah mengakui kehebatan dan kekuatan umat muslim, terutama FPI dan Habib Rizieq.

“Kapolda ketakutan dengan kekuatan umat muslim, terutama kepada FPI dan Habib Rizieq, makanya maksain harus dibubarkan,” ujar Naufal. Menurutnya saat ini, umat muslim justru semakin kuat dan bersatu ketika Anton mencoba untuk merusaknya dengan cara ingin membenturkan sesama warga sipil.

“Sebaiknya anggota GMBI yang muslim sadar dan meninggalkan ormas yang dijadikan Kapolda menjadi tamengnya,” Naufal menganjurkan, kepada Anggota GMBI yang diyakininya pasti tidak semua ingin mengikuti kemauan Kapolda.

Bahkan Naufal meyakinkan warga Sunda jika saat ini ada orang-orang yang senang melihat muslim menjadi hancur. “Mereka saya pastikan sedang tertawa karena bisa benturkan antara warga sipil dengan polisi,” ujarnya, sambil meminta agar undangan dari Kapolda diabaikan saja oleh warga Jawa Barat.
SUMBER BERITA DARI PEMBAWABERITA.COM
Link Banner
Loading...


loading...

0 komentar:

Poskan Komentar