Selasa, 14 Februari 2017

Kriminalisasi Ulama, Upaya Redam Kebangkitan Umat

PRIBUMI.WIN, JAKARTA - Oleh: Madi Hakim
praktisi dakwah, tinggal di Purwokerto.

Diakui atau tidak, 15 Februari 2017 ini adalah salah satu milestone perjuangan kita. Meski kita yakin, demokrasi tidak akan pernah mengantarkan kita pada tegaknya Syariat yang sempurna, tetapi ‘efek’ demokrasi-saya coba menghindari kata ‘hasil’-terutama Pilkada Jakarta, akan memberi pengaruh pada jalan perjuangan selanjutnya. Mari kita coba flashback ke belakang.

Kasus pelecehan Al-Maidah 51, Alhamdulillah telah berhasil menyatukan umat ini. Dulu, nahi munkar biasanya dilakukan segelintir ormas macam FPI, sekarang hampir seluruh elemen ummat berani melakukannya.

Dulu, kata ‘jihad’ hanya milik kelompok tertentu, lengkap dengan segala stigma-nya, kini anak 8 tahun-pun berani berteriak jihad.

Dulu, sangat susah bicara penegakan syariat, sekarang alhamdulillah, banyak Ulama dan Kyai membahasnya. Sampai-sampai keluar Perda semacam Sholat berjamaah dan lain-lain.

Fenomena di atas tentu sangat menarik, karena sebelumnya Islam begitu mudah di-bully di negeri ini. Hampir-hampir, para ulama, Kyai, dan mereka yang concern dengan pembumian Islam dibuat putus asa, bingung, kapan bisa melihat hasil. Hingga Allah SWT membalikkan semuanya melalui kasus Al-Maidah ini.

Melalui kasus ini, optimisme umat bangkit. Shubuh berjamaah semakin marak, pengajian-pengajian banyak diisi orasi yang membakar semangat. Muncul optimisme untuk menjadi pemegang panji Islam akhir zaman, sebagaimana disampaikan Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Palestina.

Dalam sebuah diskusi di Masjid Jogokariyan, sebagaimana disampaikan Ust Salim A Fillah, Syaikh ini menyampaikan harapannya agar kita Muslim Indonesia mempersiapkan diri menjadi The Chosen One, kelompok terpilih yang membawa panji Islam dari Timur, sebagaimana di-nubuwah-kan Rasulullah SAW. Alasannya, karena Islam yang terbentang dari Maroko di barat, hingga Merauke di timur. Cukup masuk akal.

Masalahnya, bagaimana roadmap menuju kesana? Jalan perang, revolusi, kurang diminati, meski banyak elemen umat siap Jihad, setelah melihat cara-cara ulama dikriminalisasi. Jalan damai, terlalu panjang dan menguras energi, karena tabiat demokrasi yang cenderung merugikan Islam, dan pada saat yang sama, masih memberi panggung kepada kaum munafik. GNPF sendiri saya lihat, wallohu a’lam, memilih mengikuti arus yang berkembang, ketimbang mengambil inisiatif atas momentum ini.

Maka agar bola salju kebangkitan umat ini terus membesar dan berdaya kenyal, perlu dibuat langkah-langkah strategis, berdasarkan pada ancaman dan potensi yang dimiliki umat.

Ancaman pertama, dan paling nyata di depan mata, adalah pemisahan ulama GNPF dengan umat, dengan cara dikriminalisasi. Hitungannya, jika Habib Rizieq, Munarman dan Ust Bahtiar Nasir ditahan, maka gerakan ini bakal gembos. Dalam hal ini, kita harus melakukan dua langkah sekaligus. Pertama, dengan melawan kriminalisasi. Banyak caranya.

Kedua, dengan melakukan integrasi dengan umat, sehingga GNPF tidak bergantung kepada figuritas, tetapi sudah menjadi gerakan sosial. Perlu diperbanyak kunjungan ke kantong-kantong NU, Muhammadiyah, Kampus dan Pesantren. Langkah kedua ini perlu diambil, jika ketiga tokoh di atas akhirnya memilih ditahan, ketimbang berbenturan dengan aparat, yang sangat berpotensi menimbulkan korban jiwa. Jika ini berhasil, GNPF bakal menjadi gerakan ummat, yang tidak lagi bergantung pada figur, dan tak seorangpun mampu menahannya.

Ancaman kedua adalah, jika si penista agama ‘dimenangkan’ 15 Februari nanti. Saya pakai kata ‘dimenangkan’, karena secara logika, orang ini sudah tidak mungkin menang. Tetapi kekuatan di belakangnya akan menggunakan segala cara agar dia terpilih kembali. Termasuk pemalsuan KTP, teknologi sedot data, hingga pelanggaran konstitusi. Kita berharap para pesaingnya di pilkada, bisa mengantisipasi hal ini.

Ada beberapa ancaman lainnya termasuk dari golongan komunis (PKI), dan ‘telikungan’ penganut agama lain, seperti yang terjadi pada Piagam Jakarta dulu. Tetapi menurut saya, ‘otak’-nya di dua hal diatas. Jika keduanya bisa ditangani, insya Allah yang lainnya bakal lebih mudah.

Berikutnya, potensi kekuatan kita. Pertama dan utama, ruh jihad umat. Semangat jihad menemukan lahan suburnya, sebagai akibat kebencian pada si penista agama, ditambah hukum yang tumpul padanya. Tinggal para ulama mengolahnya dengan baik, jangan sampai ada penggembosan ataupun menjadi ‘sumbu pendek’ yang mudah dimanfaatkan lawan. Maraknya subuh berjamaah, adalah salah satu cara terbaik mengelola ruh jihad ini.

Kedua, potensi dari dua ormas terbesar, NU dan Muhammadiyah. Jika keduanya bisa mengintegrasi bersama GNPF, selesai semua, end of story. Sayangnya, sejauh yang saya amati, wallohu a’lam, keduanya masih agak menjaga jarak. Terkadang kurang sepakat dengan langkah-langkah progresif GNPF. Perlu meyakinkan keduanya, bahwa tidak ada alternatif lain, kecuali menumbangkan si penista agama dan kekuatan politik di belakangnya.

Potensi ketiga, adalah kepanikan lawan. Bayangan tsunami politik, memaksa mereka nekat berbuat kesalahan-kesalahan mendasar. Kita perlu mengolah kepanikan ini dengan baik. Seperti kasus pelanggaran konstitusi dengan sengaja, seharusnya bisa menjadi awal tsunami tersebut.

Insya Allah, dengan memahami hal-hal di atas, dipupuk dan dipelihara terus melalui kajian, diskusi dan lainnya, kita akan mampu menjadi bangsa terpilih, sebagaimana disebut Wakil Ketua Rabithah Ulama Palestina. Wallahu a’lam. [kbn]
SUMBER BERITA DARI POSMETRO.INFO
Loading...


loading...

0 komentar:

Poskan Komentar