Kelompok Islam Tetap Musuh Utama Komunis

 ROMADHON.ID, TANJUNG ENIM - Ideologi komunis selamanya akan menjadikan Islam sebagai musuh. Kelompok Islam adalah batu sandungan bagi para pengikut komunisme untuk mewujudkan keinginan mereka.

Sejarah membuktikan, pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1948 dan 1965, salah satu yang menjadi korban kebiadaban PKI adalah para santri, guru ngaji, kiai dan ulama.

Doktor ilmu sejarah dari Universitas Indonesia, Tiar Anwar Bachtiar menjelaskan, wujud komunisme hari ini memang berbeda dengan masa lalu. Secara ideologi, kata Tiar, komunisme saat ini adalah komunis kepentingan. Bukan soal ideologi semata, tetapi yang utama soal duit.

“Komunisme sekarang bukan untuk mewujudkan gagasan Marx. Penerus komunisme tidak akan menerapkan gagasan Lenin dalam politik. Pengarusutamaan ideologi tidak seperti dulu lagi,” ungkap Tiar dalam seminar tentang “Ancaman Komunisme; Dulu, Kini dan Nanti” yang diselenggarakan Pesantren At-Taqwa, Cilodong, Depok, Ahad 22 September 2019.

Meski, demikian, Tiar mengingatkan, bagi pengikut komunisme musuh utama mereka tetap Islam dan umat Islam. “Secara gerakan mereka mirip. Mereka menghadapi kekuatan Islam,” kata dia.

Untuk menghadapi kelompok komunis, Tiar menyarankan agar umat Islam kembali melakukan konsolidasi internal dengan rajin-rajin bersilaturahim.

“Ini klise, tetapi harus dilakukan. Coba perhatikan, Kemenag itu sering mengumpulkan tokoh-tokoh umat beragama, tetapi apakah sering mengumpulkan tokoh-tokoh ormas atau gerakan Islam,” kata mantan Ketua Umum Pemuda Persatuan Islam (Persis) itu.

Tiar sungguh-sungguh mengingatkan bahaya laten PKI ini kepada umat Islam. Sebab menurutnya, pada masa lalu pun, Komunisme pada awalnya juga tidak menyinggung dan berhadapan langsung dengan agama, terutama Islam. Namun, fakta menunjukkan, pada pemberontakan PKI 1948 di Madiun, PKI menunjukkan sifat asli komunisme.

“Selain tentara, sasaran yang dihadapi adalah para kiai. Agama dihadapi pertama oleh orang komunis karena dinilai sebagai batu sandungan bagi mereka,” tegas Tiar.

Sebelumnya, Ketua Bidgar Pengembangan Dakwah PP Persis itu menyinggung perkembangan komunisme di Indonesia terkini. Menurut Tiar, neo-komunisme saat ini sudah menjadi seperti kapitalisme. Gagasan komunisme dahulu yang hendak melakukan pemerataan kesejahteraan sudah tidak ada lagi.

Secara faktual, hal itu dapat dilihat dari negara China maupun Korea Utara. Di dua negara komunis itu ternyata menerapkan sistem ekonomi kapitalis.

Secara individu, Tiar juga mengingatkan, aslinya tokoh-tokoh PKI juga hidup secara mewah. Ia menyebut Nyoto pada masa Orde Lama sebagai contoh. Nyoto, kata Tiar, sering tampil mewah bak seorang borjuis. “Proletarianisme dalam komunis itu hanya jualan ideologi saja,” sindir dia.

Secara jaringan, komunis di Indonesia era sekarang dapat disebut menggunakan jaringan keluarga mantan PKI. Selain itu juga politisi, buruh, pengusaha, dosen maupun guru. Namun semuanya juga bisa dikatakan tidak memiliki arah yang jelas.

Mereka, kata Tiar, membangun jaringan baru untuk kepentingan politiknya dengan ciri tidak lagi bicara soal komunisme secara vulgar, namun dicampur dengan kapitalisme. Tetapi untuk memuluskan tujuan mereka tetap menggunakan cara-cara komunisme. Mereka juga melakukan penyusukan ke gerakan mahsiswa dan lembaga swadaya masyarakat.

Untuk generasi baru komunis saat ini, Tiar menyinggung soal “China Overseas”. Mereka inilah yang disebut sebagai generasi baru komunis-kapitalis. Generasi ini adalap para keturunan China-Selatan yang menyebar ke seluruh dunia dan sering disebut sebagai “Lords of The Rim”. “Di Indonesia mereka disebut sembilan naga,” kata Tiar.

Subscribe to receive free email updates: